Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan merupakan kewajiban sekaligus momentum spiritual yang mendalam. Namun, bagi penyandang Diabetes Melitus (Diabetesi), perubahan pola makan dan aktivitas fisik selama berpuasa memerlukan perhatian khusus agar stabilitas kadar gula darah tetap terjaga.
Diabetes bukan menjadi penghalang bagi seseorang untuk menjalankan ibadah puasa, asalkan dilakukan dengan kontrol yang ketat dan pemantauan mandiri yang disiplin. Pengetahuan mengenai manajemen nutrisi dan pengenalan tanda-tanda bahaya menjadi bekal utama bagi penderita diabetes agar puasa tetap membawa manfaat bagi raga dan jiwa.
Beberapa upaya pengendalian gula darah selama Bulan Ramadan bagi penderita diabetes di antaranya:
a. Periksa kadar gula darah sebelum Ramadhan.
b. Diskusikan penyesuaian dosis obat atau insulin dengan tenaga kesehatan.
c. Pastikan tidak sedang dalam kondisi gula darah tidak stabil.
a. Cek saat sahur, siang hari, dan 2 jam setelah berbuka.
b. Batalkan puasa bila gula darah:
· < 70 mg/dL (hipoglikemia)
· 300 mg/dL (hiperglikemia)
Saat Sahur:
a. Pilih karbohidrat kompleks (nasi merah, oatmeal, roti gandum).
b. Tambahkan protein (telur, ikan, tahu, tempe).
c. Perbanyak sayur dan cukup air putih.
Saat Berbuka:
a. Awali dengan air putih dan kurma secukupnya (1–3 butir).
b. Hindari minuman manis berlebihan.
c. Batasi gorengan dan makanan tinggi gula.
a. Lakukan aktivitas ringan seperti jalan santai setelah tarawih.
b. Hindari olahraga berat menjelang berbuka.
5. Kenali Tanda Bahaya
Segera berbuka dan cari pertolongan bila muncul:
a. Lemas berat, gemetar, keringat dingin
b. Pusing, pandangan kabur