Pemerintah melalui sistem surveilans nasional terus memperkuat kewaspadaan terhadap dinamika penyakit influenza yang secara global masih menunjukkan perkembangan hingga akhir tahun 2025. Salah satu varian yang saat ini menjadi perhatian adalah Influenza A(H3N2) subclade K.
Berdasarkan hasil surveilans global, virus influenza diketahui terus mengalami perubahan genetik sebagai bagian dari proses evolusi alaminya. Subclade K dari virus Influenza A(H3N2) telah terdeteksi di sejumlah negara Asia seperti Tiongkok, Korea Selatan, Jepang, Singapura, dan Thailand sejak pertengahan tahun 2025. Meski demikian, tren kasus influenza di negara-negara tersebut dalam dua bulan terakhir menunjukkan kecenderungan menurun, dengan varian A(H3) masih menjadi tipe dominan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menegaskan bahwa hingga akhir Desember 2025, situasi Influenza A(H3N2) subclade K di Indonesia masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya. Para pakar kesehatan, termasuk Prof. Yoga Tjandra, menyampaikan bahwa istilah superflu yang digunakan oleh sebagian orang tidak serta-merta berarti virus tersebut lebih mematikan, melainkan menandakan adanya perubahan genetik yang perlu dipantau secara ketat melalui surveilans genomik. Oleh karena itu, pendekatan yang diutamakan adalah peningkatan kewaspadaan dan pemantauan dini, bukan kepanikan.
Dalam rangka pengendalian dan deteksi dini, pemerintah melaksanakan surveilans Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI) yang bertujuan memantau penyakit infeksi saluran pernapasan akut berpotensi wabah. Hingga akhir Desember 2025, dari 88 site sentinel ILI-SARI di seluruh Indonesia, tercatat 62 kasus influenza di delapan provinsi, termasuk Jawa Timur.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya, antara lain pemantauan intensif kasus ILI dan SARI di site sentinel, koordinasi berkelanjutan dengan Kementerian Kesehatan dan BBLKM Surabaya, pembaruan pengetahuan petugas kesehatan terkait ISPA, pneumonia, dan influenza, serta pemantauan rutin melalui aplikasi Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) dan aplikasi NAR. Selain itu, edukasi kepada masyarakat terus digencarkan, khususnya mengenai penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), etika batuk, penggunaan masker, serta anjuran menghindari kerumunan di ruang tertutup.
Dengan penguatan surveilans, koordinasi lintas sektor, serta partisipasi aktif masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, pemerintah optimistis pengendalian influenza, termasuk subclade K, dapat terus terjaga dan risiko dampak kesehatan masyarakat dapat diminimalkan secara optimal.