Anemia pada remaja putri masih menjadi tantangan serius dalam upaya pembangunan kesehatan masyarakat. Kondisi ini terjadi ketika kadar hemoglobin dalam darah kurang dari 12 g/dL, dan dapat berdampak pada menurunnya sistem imun, gangguan konsentrasi, prestasi belajar yang rendah, serta menurunnya kebugaran dan produktivitas. Dalam jangka panjang, anemia juga meningkatkan risiko komplikasi saat melahirkan dan menjadi salah satu penyebab kelahiran prematur.
Penyebab utama anemia pada remaja putri antara lain kekurangan zat besi, vitamin B12, dan asam folat, serta infeksi parasit atau penyakit seperti malaria dan thalasemia. Gejala anemia sering kali dikenali melalui kondisi 5L (lesu, letih, lemah, lelah, lalai), mudah mengantuk, sulit berkonsentrasi, pusing, mata berkunang-kunang, serta kulit dan kelopak mata yang tampak pucat.
Pencegahan anemia pada remaja putri dapat dilakukan melalui konsumsi makanan bergizi seimbang yang kaya zat besi, penerapan gaya hidup sehat, serta konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin satu kali setiap minggu. Program TTD menjadi strategi nasional untuk menurunkan angka kejadian anemia, sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sehat dan produktif.
Namun demikian, di lapangan masih ditemukan berbagai kendala. Banyak remaja putri enggan mengonsumsi TTD karena kurangnya pemahaman terhadap manfaatnya. Di sisi lain, koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam mendukung program ini masih perlu diperkuat.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Lumajang melaksanakan kegiatan Orientasi Program TTD kepada kepala sekolah dan guru UKS (14/7) sebagai upaya advokasi dan penguatan dukungan. Tujuannya adalah mendorong pelaksanaan pemberian TTD secara optimal di lingkungan sekolah, sehingga dapat menurunkan angka anemia dan mewujudkan generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.