Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana

11 Februari 2026   14 kali  
RSUD dr. Haryoto Lumajang Siap Perkuat Layanan Pengobatan TBC Resisten Obat
RSUD dr. Haryoto Lumajang Siap Perkuat Layanan Pengobatan TBC Resisten Obat

Dalam upaya memperkuat penanggulangan Tuberkulosis Resisten Obat (TBC RO), RSUD dr. Haryoto Lumajang menyelenggarakan Pertemuan Mentoring Klinis Layanan TBC RO sekaligus Audit Layanan TBC RO pada Selasa–Rabu, 10–11 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Pertemuan RSUD dr. Haryoto dan diikuti oleh 40 peserta lintas program dan lintas sektor.

Tuberkulosis hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Berdasarkan laporan global, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dengan beban kasus TBC tertinggi. Meningkatnya kasus TBC Resisten Obat menjadi tantangan besar karena berdampak pada pembiayaan dan kompleksitas pengobatan. Di Provinsi Jawa Timur, tercatat 1.347 kasus TBC RO pada tahun 2024, dengan tingkat pengobatan mencapai 84,48 persen. Sementara itu, di Kabupaten Lumajang selama periode 2024–2025 ditemukan 40 kasus Rifampisin Resisten, dengan 75 persen pasien menjalani pengobatan dan 7 pasien telah menyelesaikan terapi hingga dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap.

Kegiatan mentoring klinis dan audit layanan ini bertujuan memberikan rekomendasi agar RSUD dr. Haryoto Lumajang dapat mulai membuka pelayanan inisiasi pengobatan pasien TBC RO. Selain itu, kegiatan ini juga mendorong perpindahan bertahap pasien TBC RO asal Kabupaten Lumajang yang masih menjalani pengobatan di luar daerah, serta memastikan pasien baru dapat langsung dirujuk dan memulai pengobatan di RSUD dr. Haryoto dengan mempertimbangkan akses dan kesiapan pasien.

Dalam pemaparan hasil audit, dijelaskan bahwa alur pelayanan TBC RO di RSUD dr. Haryoto dimulai sejak pasien datang melalui loket pendaftaran atau Instalasi Gawat Darurat (IGD). Pasien akan menjalani skrining awal untuk menentukan kebutuhan layanan lanjutan, termasuk penempatan di ruang isolasi atau pemeriksaan laboratorium sebelum dirujuk ke Klinik TB MDR. Setelah pemeriksaan klinis, pasien dapat langsung mengambil obat di apotek rumah sakit.

RSUD dr. Haryoto juga telah memiliki fasilitas pendukung yang memadai, antara lain satu unit mesin Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan kapasitas pemeriksaan sekitar 60 sampel dahak per bulan dan tingkat utilisasi mencapai 75 persen. Fasilitas rawat inap khusus TBC RO juga telah tersedia dengan empat tempat tidur bertekanan negatif serta ruang konsultasi bagi pasien dan keluarga. Namun demikian, beberapa pemeriksaan penunjang seperti magnesium (Mg) masih dirujuk ke rumah sakit rujukan di luar daerah.

Selain aspek pelayanan klinis, edukasi dan komunikasi juga menjadi perhatian penting. Pasien TBC RO baru mendapatkan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) dari petugas promosi kesehatan, termasuk motivasi untuk menjalani pengobatan secara tuntas. Penerapan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) TBC dilaksanakan sesuai standar, dengan pemisahan limbah infeksius dan non-infeksius serta pengaturan ventilasi dan pencahayaan yang baik.

            Melalui kegiatan ini, diharapkan RSUD dr. Haryoto Lumajang semakin siap menjadi fasilitas layanan rujukan TBC RO di Kabupaten Lumajang, sekaligus berkontribusi dalam percepatan target eliminasi TBC nasional pada tahun 2030.

Banyak Dibaca





PEMERIKSAAN GRATIS
29 Oktober 2019 616 kali Baca...
Sosialisasi Penertiban CFD dan CFN
09 Januari 2019 609 kali Baca...
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
10 Februari 2025 513 kali Baca...
PIRT DINKES KAB. LUMAJANG
12 Juni 2024 270 kali Baca...
Campak Mulai Merebak ?
26 Agustus 2025 154 kali Baca...