Pemerintah Kabupaten Lumajang terus menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, khususnya ibu hamil. Upaya ini menjadi langkah nyata dalam mempersiapkan generasi yang sehat dan bebas stunting.
Kehamilan dengan risiko tinggi bukan perkara sepele. Kondisi ini dapat memicu berbagai komplikasi, mulai dari kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR), hingga risiko kematian bayi baru lahir. Tak hanya itu, ibu pun berisiko mengalami komplikasi serius bahkan kematian saat kehamilan, persalinan, hingga masa nifas.
Tahun 2024, tercatat sebanyak 3.106 ibu hamil di Kabupaten Lumajang masuk dalam kategori risiko tinggi. Lebih mengkhawatirkan, terdapat 13 kasus kematian ibu—angka yang meningkat hingga 30 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tingginya angka ibu hamil risiko tinggi ini juga sejalan dengan prevalensi stunting di Lumajang yang masih mengkhawatirkan. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2024, Lumajang berada di peringkat tiga terbawah dengan angka stunting mencapai 29,9 %.
Merespons kondisi tersebut, Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Lumajang menggandeng para kader ibu hamil untuk berperan aktif dalam mendampingi para ibu hamil risiko tinggi. Pendampingan ini bertujuan membantu ibu, keluarga, dan lingkungan sekitar dalam mempersiapkan persalinan yang sehat dan selamat.
Upaya ini juga sejalan dengan program unggulan Gubernur Jawa Timur, yaitu BUAIAN (Bunda Anak Impian), yang menitikberatkan pada pencegahan stunting melalui pendampingan intensif bagi ibu hamil risiko tinggi.
Sebagai langkah awal, Dinas Kesehatan P2KB Kabupaten Lumajang mengundang para kader dari lima puskesmas lokus—Puskesmas Randuagung, Ranuyoso, Pasrujambe, Senduro, dan Pasirian—untuk mengikuti pelatihan peningkatan kapasitas (20/5). Pelatihan ini menghadirkan narasumber dr. Edi Fuziantoro, Sp.OG atau yang akrab disapa dr. Edifuz.
“Untuk mempersiapkan kondisi ibu hamil, keluarga, dan lingkungannya agar ibu bisa melahirkan dengan selamat dan sehat, maka dibutuhkan sosok yang dekat, memahami budaya sosial masyarakat, dan mampu memberikan informasi serta dukungan. Di sinilah peran kader ibu hamil risiko tinggi menjadi sangat penting,” terang dr. Edifuz dalam pemaparannya.
Selama enam bulan ke depan, para kader ini akan rutin melaporkan hasil pendampingan mereka setiap bulan. Dengan pendampingan yang intensif dan berkesinambungan, diharapkan kondisi kesehatan ibu hamil dapat terus terpantau, dan bayi yang lahir pun sehat dan bebas stunting.
Kabupaten Lumajang berharap, lewat peran aktif kader dan sinergi lintas sektor, angka kematian ibu dan stunting dapat ditekan secara signifikan. Karena sehatnya generasi masa depan, dimulai dari ibu yang kuat dan kehamilan yang aman.