Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana

26 Agustus 2025   200 kali  
Campak Mulai Merebak ?
Campak Mulai Merebak ?

 

Bude Jamilah baru tahu saat petugas Surveilans Dinkes dan Puskesmas datang ke rumah. Bahwa sakit gabaken merupakan penyakit berbahaya dan sangat menular. Berisiko menyebabkan kematian jika tidak segera ditangani.

Ceritanya bermula ketika cucu beliau mengeluh sakit dengan gejala demam dan timbul bintik merah di kulit. Sejak tiga hari sebelumnya.

Khawatir tidak segera membaik, terpaksa  sang cucu dibawa ke Puskesmas. Sampai kemudian petugas mengetahui dan berkunjung ke rumah beliau.

Dalam istilah kesehatan, gejala yang dialami cucu bude dikenal sebagai suspek morbili, measles, atau rubela. Sebagian mengenalnya dengan campak. Ada yang menyebut sebagai gabaken, atau tampek.

Campak biasanya memang dimulai dengan gejala mirip flu: demam, batuk dan pilek, kadang disertai mata merah (konjungtivitis).

Setelah beberapa hari muncul bintik-bintik putih kecil di dalam mulut, diikuti dengan ruam merah yang menyebar ke seluruh tubuh. Gejala ini khas yang membedakan dengan sakit yang bukan campak.

Setelah terinfeksi virus campak, gejala biasanya muncul 7 – 18 hari kemudian, rata-rata 10 hari. Hal ini biasa disebut dengan masa inkubasi, dihitung dari antara terjadinya paparan (tertular),  hingga timbulnya gejala.

Campak merupakan penyakit sangat menular yang disebabkan oleh virus dan dapat mengakibatkan kematian. Kematian pada campak sebagian besar disebabkan oleh komplikasi, sepert pneumonia (infeksi paru-paru), ensefalitis (radang otak), kerusakan mata, termasuk kebutaan, diare berat dan dehidrasi, terutama pada anak-anak dengan gizi buruk.

Campak menyerang hampir 100% anak yang tidak kebal terhadap virus tersebut. Indonesia termasuk ke dalam 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia.

 

Penyelidikan Epidemiologi.

Ketika menemukan atau mendapat laporan, Petugas Surveilans Dinkes dan Puskesmas akan melakukan pengumpulan data dan informasi. Petugas akan datang ke Puskesmas atau rumah sakit dimana pasien dirawat. Mengambil sampel serum darah untuk  memastikan penyakit campak atau bukan. Selanjutnya sampel serum ini dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat Surabaya.

Petugas juga akan berkunjung ke rumah dan lingkungan sekitar tempat tinggal atau sekolah dimana pasien bertempat tinggal atau bersekolah. Hal ini untuk memastikan risiko penularan di lingkungan sekitar, yang selanjutnya dilakukan tindakan penanggulangan. Juga diberikan vitamin A kepada suspek, 4 minggu setelah keluar ruam.

Kegiatan diatas dalam bahasa kesehatan dikenal sebagai penyelidikan epidemiologi.

Kita mungkin masih ingat, istilah epidemiolog sempat viral di masa pandemi COVID-19.

Mereka bertanggung jawab untuk menyelidiki, menganalisis, dan memberikan rekomendasi untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran penyakit, serta meningkatkan kesehatan masyarakat.

Bahkan karena pandemi COVID-19 juga, Kemenkes RI, tanggal 11 Januari 2023 pernah mengeluarkan Surat Edaran Tentang Peningkatan kewaspadaan Dini Penyakit Potensial KLB dan Wabah. Bahwa setidaknya 80 juta anak usia kurang dari 1 tahun memiliki risiko untuk menderita penyakit difteri, campak dan polio akibat terganggunya pelayanan imunisasi rutin di tengah pandemi COVID-19. Salah satu KLB yang dilaporkan di beberapa wilayah di Indonesia dintaranya Campak.

Imunisasi dan Campak

Sebagaimana banyak diulas para ahli,  disebutkan bahwa salah satu intervensi kesehatan masyarakat yang dianggap paling berhasil (selain sanitasi air bersih) adalah imunisasi.

Dengan kata lain, upaya paling efektif melindungi anak dari penularan penyakit campak adalah dengan imunisasi.

Tidak ada satu negarapun di dunia yang tidak menjalankan program imunisasi. Artinya imunisasi sudah dijalankan di seluruh negara. Banyak penyakit menular yang sudah ditemukan vaksinnya. Kita mengenalnya dengan PD3I, atau Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi.

Dan berita baiknya, sebagian besar imunisasi anak di Indonesia disubsidi penuh oleh pemerintah. Program Imunisasi kita gratis. Terdapat hampir 14 jenis vaksin telah disediakan pemerintah. Kita bisa menyebutnya antara lain vaksin untuk penyakit tuberkulosis anak, difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, haemophilus influenza type B, polio, campak, rubella, diare berat, pneumonia.

Bahkan trend perkembangan ilmu pengetahuan saat ini memungkinkan tidak hanya penyakit menular yang mampu dicegah dengan imunisasi. Suatu saat vaksin juga memungkinkan untuk penyakit tidak menular atau penyakit degeneratif.

Kembali ke cucu Bude.

Sebetulnya Bude sudah paham tentang imunisasi campak. Bahwa imunisasi campak diberikan pertama kali saat bayi usia 9 bulan. Kemudian diulang (booster) saat usia 18-24 bulan. Tujuannya untuk tetap mempertahankan antibodi atau kekebalan anak saat tertular virus campak. Kemudian imunisasi campak terakhir diberikan saat usia 7 tahun atau kelas 1 sekolah dasar.

Berdasarkan data, sampai dengan tribulan-2 tahun 2025 tercatat 27 terduga atau suspek campak. Sebagian besar laki-laki (52%), berusia dibawah 2 tahun (26%). Sementara status imunisasi lengkap hanya terdapat pada 44% suspek.

Data ini semakin memperlihatkan bahwa kita masih punya pekerjaan rumah penting, untuk segera meningkatkan cakupan anak diimunisasi rutin lengkap. Sebelum anak-anak kita keduluan tertular penyakit. Sementara pertahanan tubuh anak belum mempunyai antibodi untuk melawannya.

Bersambung ....

 

Banyak Dibaca





Sosialisasi Penertiban CFD dan CFN
09 Januari 2019 743 kali Baca...
PEMERIKSAAN GRATIS
29 Oktober 2019 743 kali Baca...
Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG)
10 Februari 2025 666 kali Baca...
PIRT DINKES KAB. LUMAJANG
12 Juni 2024 347 kali Baca...
Campak Mulai Merebak ?
26 Agustus 2025 200 kali Baca...